beritantb.co.id - Keberadaan Ekowisata Bale Mangrove di Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memberi dampak nyata bagi desa dan masyarakat sekitar. Dari kontribusi pendapatan desa hingga dukungan fasilitas sosial, manfaat itu dirasakan langsung warga Dusun Poton Bako. Data pengelola mencatat setoran rutin dan berbagai bantuan meski tanpa dukungan pengembangan dari desa.
Di balik rimbunnya mangrove pesisir Jerowaru, ada kontribusi yang terus mengalir bagi desa. Ekowisata Bale Mangrove disebut rutin menyerahkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp9 juta per tahun. Angka itu disetor meski pengelola menyebut tidak mendapatkan bantuan pengembangan dari pemerintah desa setempat.
Tak hanya PADes, dampak ekonomi dan sosial juga dirasakan warga Dusun Poton Bako. Setiap tahun, destinasi wisata hijau itu menyerahkan dana pembangunan masjid dusun sebesar Rp12 juta. Selain itu, masjid juga menerima tambahan dari kotak amal yang berasal dari kunjungan wisatawan ke kawasan ekowisata tersebut.
Baca Juga: Ekowisata Bale Mangrove Jerowaru Lombok Timur: Daya Tarik dan Rute Terbaik
Kontribusi lain yang dicatat pengelola adalah pembuatan tandon atau tampungan air untuk kebutuhan masyarakat. Dukungan juga diberikan kepada Taman Kanak-kanak (TK) di Dusun Poton Bako. Rangkaian kontribusi itu menjadi bagian dari aktivitas rutin Bale Mangrove dalam mendukung kebutuhan dasar dan pendidikan warga sekitar.
Pernyataan soal dampak tersebut disampaikan melalui unggahan akun Facebook Ekowisata Bale Mangrove. Dalam unggahan itu, pengelola mempertanyakan anggapan yang menyebut Bale Mangrove tidak memberi dampak bagi desa.
“Dan masih banyak lagi, tapi kok ada yang mengatakan Bale Mangrove tidak berdampak,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: PLN NTB Raih Penghargaan Indonesia Green Awards 2025 untuk Pengembangan Ekowisata Bale Mangrove
Ekowisata Bale Mangrove sendiri merupakan destinasi wisata alam yang berfokus pada konservasi, edukasi, dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem mangrove. Lokasinya berada di Dusun Poton Bako, Desa Jerowaru.
Kawasan itu dikelola dengan semangat menjaga kelestarian lingkungan pesisir sekaligus membuka ruang bagi masyarakat dan wisatawan untuk belajar serta menikmati alam.
Keberadaan Bale Mangrove juga tak lepas dari prestasi Desa Jerowaru di tingkat nasional. Desa Wisata Jerowaru berhasil masuk dalam 100 besar Desa Wisata Terbaik pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Capaian tersebut menjadi latar penting bagi berkembangnya aktivitas ekowisata di wilayah ini.
Baca Juga: Warga Jerowaru Aksi Bersih Pesisir di momen HUT ke-23 PLN
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bale Mangrove Desa Jerowaru, Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa Jerowaru baru pertama kali mengikuti ajang ADWI. Status desa pun masih sebagai Desa Rintisan. Namun demikian, Jerowaru mampu bersaing dengan ribuan desa wisata lain dari berbagai daerah di Indonesia.
“Meski baru pertama kali ikut ADWI dan masih Desa Rintisan, Jerowaru bisa bersaing,” katanya.
Artikel Terkait
Kasus Korupsi Besar di Indonesia Mandek, Begini Sorotan Tokoh Nasional
Air Mancur Tiga Dimensi Tarik Ribuan Warga di Lombok Barat
Hati-hati, Udara Lembap Bisa Bikin Pemancar WiFi Mati Total Secara Permanen
Isu Pungli Warnai Kedatangan Kapal Pesiar di Gili Mas Lombok Barat
Dari Desa Sekumur Aceh, Azzahra dan Pesan untuk Anak Indonesia