Sabtu, 18 April 2026

Pariwisata NTB di Ujung Uji

Photo Author
Awaludin, Berita NTB
- Sabtu, 18 April 2026 | 10:37 WIB

Pariwisata NTB di Ujung Uji. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi salah satu destinasi andalan. (beritantb.co.id/PLN)
Pariwisata NTB di Ujung Uji. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi salah satu destinasi andalan. (beritantb.co.id/PLN)

beritantb.co.id - Industri pariwisata Nusa Tenggara Barat sedang menghadapi ujian berlapis. Bukan hanya dari dalam negeri melalui kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, tetapi juga dari luar, gejolak ekonomi global dan konflik geopolitik yang kian memanas. Kombinasi ini perlahan menggerus salah satu sektor andalan daerah, memaksa pelaku industri berpikir ulang, apakah fondasi pariwisata NTB selama ini cukup kuat, atau justru terlalu rapuh menghadapi guncangan?

Selama beberapa tahun terakhir, sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) menjadi salah satu penopang utama kunjungan wisatawan ke NTB. Agenda pemerintah, kegiatan korporasi, hingga event berskala nasional dan internasional memberikan efek domino bagi hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM lokal. Namun kini, efisiensi anggaran pemerintah mengubah peta itu secara drastis.

Ketika belanja negara dipangkas, MICE menjadi salah satu sektor pertama yang terdampak. Agenda rapat dikurangi, perjalanan dinas dibatasi, dan kegiatan besar ditunda atau bahkan dibatalkan. Dampaknya langsung terasa: tingkat hunian hotel menurun, ruang pertemuan kosong, dan rantai ekonomi yang biasanya hidup dari aktivitas tersebut ikut melambat.

Baca Juga: Menjemput Nyawa Kedua Pariwisata Senggigi Lombok

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Sahlan M Saleh, secara terbuka mengakui bahwa MICE tidak lagi bisa menjadi tulang punggung utama. Pernyataan ini bukan sekadar sinyal, tetapi alarm bahwa struktur industri pariwisata NTB sedang mengalami pergeseran fundamental.

Di titik ini, pelaku usaha didorong untuk kembali ke akar: wisata leisure. Wisata yang berbasis pengalaman, rekreasi, dan relaksasi kini kembali menjadi harapan. Namun, pergeseran ini tidak semudah membalik telapak tangan. Pasar leisure membutuhkan strategi promosi yang lebih kuat, pengalaman wisata yang lebih berkualitas, serta aksesibilitas yang lebih baik.

Masalahnya, di saat yang sama, tekanan dari luar negeri mulai terasa.

Baca Juga: 227 Peselancar Serbu Lombok di Ajang Senggigi Open Surfing 2025

Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menciptakan efek berantai yang menjalar hingga ke NTB. Meski secara geografis jauh, dampaknya nyata. Sejumlah wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa, mulai membatalkan perjalanan mereka.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Banyak wisatawan Eropa menggunakan rute penerbangan yang transit di kawasan Timur Tengah seperti Doha sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ketika kawasan transit menjadi tidak stabil, keputusan paling rasional bagi wisatawan adalah menunda perjalanan.

Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, Ketut Murtajaya, mengungkapkan bahwa pembatalan reservasi mulai terjadi dalam beberapa hari terakhir. Angkanya mungkin belum signifikan, tetapi tren ini cukup untuk menimbulkan kekhawatiran.

Baca Juga: Ekowisata Bale Mangrove Jerowaru Lombok Timur: Daya Tarik dan Rute Terbaik

Pariwisata, pada dasarnya, adalah industri kepercayaan. Ketika rasa aman terganggu, meski hanya persepsi, dampaknya bisa sangat besar. Bahkan konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk berlibur.

Di sinilah letak kerentanan industri pariwisata NTB. Ketergantungan pada pasar tertentu, dalam hal ini wisatawan Eropa, membuat sektor ini mudah terguncang oleh faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Awaludin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pariwisata NTB di Ujung Uji

Sabtu, 18 April 2026 | 10:37 WIB

Menjemput Nyawa Kedua Pariwisata Senggigi Lombok

Kamis, 8 Januari 2026 | 07:50 WIB
X